EDUKADI NEWS-Majalengka, Anggota Dewan Komisi XII dari Fraksi PKS, Ir. Ateng Sutisna, menggelar kegiatan Safari Ramadhan sekaligus melakukan kunjungan reses bertempat di DPD PKS Kabupaten Majalengka (24/2/2026)
Acara ini menjadi yang pertama kalinya dilakukan dengan format buka bersama antara struktur organisasi dan pelopor PKS, mengingat Majalengka memiliki dua jalur kegiatan yaitu Struktur dan Baraya yang membuatnya menjadi daerah dengan jumlah kegiatan Safari Ramadhan terbanyak di tingkat kabupaten.
Dalam kesempatan tersebut, pembicaraan pun menyentuh proyek Geothermal Gunung Tampomas Kabupaten Sumedang. Menurut Ir. Ateng Sutisna, proyek tersebut tengah dalam proses tender bagi calon investor, yang selanjutnya akan melakukan sosialisasi, penyusunan dokumen AMDAL, serta perencanaan untuk eksplorasi dan eksploitasi. Namun, ia menilai pemerintah pusat terlalu tergesa-gesa dan tidak melakukan pendekatan yang arif terhadap masyarakat.
“Sudah pernah ada upaya tahun ini juga, namun masyarakat Tampomas menolak dan hingga saat ini masih belum bisa menerima,” ujarnya. Minggu lalu, Ir. Ateng telah menemui para tokoh masyarakat sekitar Gunung Tampomas dan mendapatkan konfirmasi bahwa kondisi penolakan masih berlangsung.
Dalam kunjungan kerja sebelumnya ke Jawa Barat yang menghadirkan Direktur Jenderal Ketenagaan Listrikan dan Direktur PBT (terkait Direktorat Energi Baru dan Terbarukan), ia menyampaikan pentingnya melakukan komunikasi terlebih dahulu dengan masyarakat sekitar. “Mereka yang akan merasakan dampak positif dan negatifnya. Jika belum paham dampak positifnya, informasi tentang dampak negatif yang beredar akan semakin memperkuat penolakan,” jelasnya.
Ir. Ateng juga mengangkat permasalahan terkait tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dari proyek geothermal yang sudah beroperasi di berbagai daerah seperti Dieng, Drajat, dan Gunung Salak. Menurutnya, masih banyak keluhan masyarakat yang belum merasakan manfaat dari kehadiran proyek tersebut, bahkan justru menghadapi kekhawatiran seperti bau belerang, kebisingan, berkurangnya pasokan air, dan longsor.
“Salah satu hal yang ironis adalah beberapa kampung di sekitar Gunung Salak belum mendapatkan pasokan listrik, padahal proyek geotermal tersebut ditujukan untuk pembangkit listrik. Kondisi seperti ini membuat masyarakat di daerah lain yang memiliki potensi geotermal, termasuk sekitar Gunung Ciremai di dapil kami, menjadi antisipatif dan tidak serta-merta menerima proyek serupa,” ujarnya.
Meskipun menyadari bahwa geotermal merupakan energi ramah lingkungan yang penting untuk mewujudkan swasembada dan ketahanan energi sesuai dengan arahan Presiden Prabowo, Ir. Ateng menegaskan bahwa pemerintah dan investor harus melakukan sosialisasi yang jelas, melibatkan tokoh masyarakat serta kader dari berbagai pihak. “Saya berada dalam koalisi dengan Presiden, namun kehadiran investor harus benar-benar membawa manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya. ( Ajat Sudrajat)













