https://picasion.com/
NEWS  

OPINI: FILOSOF KEHIDUPAN DARI RANAH MINANG

EDUKADI NEWS – Pekanbaru 03 November 2026.
Kata “filosof” berasal dari ilmu filsafat. Konon, filsafat adalah induk dari segala ilmu. Dalam konteks Indonesia hari ini, nama Rocky Gerung sering disebut sebagai ahli filsafat yang berani menyuarakan nalar kritis.

Pada hakikatnya, filsafat tidak terbatas pada satu disiplin ilmu saja. Kita mengenal ada filsafat hukum, filsafat pendidikan, filsafat etika dan norma, filsafat negara, hingga filsafat kehidupan itu sendiri. Filsafat adalah cara berpikir mendalam untuk mencari hakikat kebenaran.

Pada kesempatan ini, saya ingin mengemukakan filsafat kehidupan yang tumbuh dan hidup di Negeri Minangkabau (Sumatera Barat). Dua filosofi yang sangat kental kaitannya dengan hukum dan kepemimpinan di Minangkabau.

Pertama, Tali Bapilin Tigo.
Kedua, Tigo Tungku Sajarangan.

Kedua filosofi ini berjalan bersama dan saling menguatkan dalam tatanan masyarakat Minang.

Tali Bapilin Tigo adalah konsep kepemimpinan kolektif yang terdiri dari tiga unsur: Ninik Mamak, Alim Ulama, dan Cadiak Pandai. Ninik Mamak adalah pemimpin adat yang menjaga sako dan pusako, Alim Ulama adalah pemimpin agama yang menjaga syarak dan akidah, dan Cadiak Pandai adalah kaum intelektual yang menjaga nalar dan kemajuan. Jika satu pilinan putus, maka tali akan rapuh. Jika ketiganya bersatu, maka nagari akan kokoh. Inilah checks and balances ala Minangkabau yang sudah ada ratusan tahun sebelum Montesquieu bicara tentang Trias Politica.

Tigo Tungku Sajarangan adalah tungku yang menopang kuali kehidupan bersama. Tungku tersebut adalah Adat, Syarak, dan Pemerintah. Filosofi ini mengajarkan bahwa hukum adat (Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah) tidak boleh bertentangan dengan hukum agama, dan keduanya harus bersinergi dengan hukum negara / pemerintahan. Keseimbangan inilah yang melahirkan harmoni.

Namun dari semua itu, muaranya adalah pada satu titik: Filsafat Etika dan Moral.

Dalam tatanan Minangkabau, adab adalah yang paling tinggi. Aturan hukum tertulis bisa saja dilanggar oleh kekuasaan, tetapi etika dan moral adalah benteng terakhir kemanusiaan. Pepatah Minang mengatakan, “Adat jo Syarak kokoh, hidup akan terarah.”

Jika seorang pemimpin, seorang penegak hukum, atau seorang manusia sudah tidak lagi mengacu kepada etika dan moral, maka sesungguhnya akalnya sudah lenyap. Kepintarannya tidak lagi digunakan untuk kebenaran, melainkan untuk pembenaran. Pada saat itulah predikatnya sebagai individu sosial punah. Ia hidup, tetapi tidak lagi bermasyarakat.

Hari ini kita menyaksikan banyak orang pandai hukum, tetapi miskin adab. Pandai berpolitik, tetapi miskin etika. Inilah krisis filosofi kita.

Minangkabau telah mewariskan solusinya: Kembalikan kepemimpinan pada Tali Bapilin Tigo, kembalikan hukum pada Tigo Tungku Sajarangan, dan kembalikan manusia pada etika dan moral.

Karena tanpa etika, ilmu hanyalah alat kejahatan yang dilegalkan

(Udra Edukadi News)

https://picasion.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://picasion.com/