EDUKADI NEWS + Pekanbaru 28 Juli 2026. Konflik adalah perseteruan. Dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat, konflik pasti ada.
Tantangan justru harusnya menimbulkan inspirasi untuk menyikapi keadaan, sehingga tantangan berubah menjadi dukungan atau dorongan untuk maju.
Konflik tidak mengenal tempat, waktu, kawan maupun lawan. Apalagi di dalam politik.
Negara sebagai bentuk pemerintahan yang dipimpin Presiden atau Raja, tidak akan pernah lepas dari konflik karena adanya perbedaan kepentingan.
Bentuk apapun sistem pemerintahan tidak lepas dari konflik. Penyebab utamanya adalah perbedaan kepentingan, terutama pada 5 kebutuhan dasar menurut Teori Maslow:
- Kebutuhan Pokok – Sandang, pangan, papan
- Keamanan – Rasa aman dari ancaman
- Sosial – Diterima dalam kelompok
- Penghargaan / Esteem – Status sosial
- Aktualisasi Diri – Pengakuan jati diri
Jika 5 hal ini berbenturan, maka konflik akan lahir. Baik dari Eksternal maupun Internal pemerintahan.
Konflik wajib dikelola/diatur. Tujuannya agar konflik berubah menjadi bermanfaat. Minimal tidak menghambat jalannya pemerintahan.
Manajemen adalah seni administrasi dalam menyikapi konflik.
Kerangkanya pakai POAC:
- Planning – Perencanaan
- Organizing – Pengorganisasian
- Actuating – Pelaksanaan
- Controlling – Pengawasan
Sebelum mengambil kebijakan, wajib dilakukan kajian dan survey investigasi lingkungan strategi Internal & Eksternal.
Semua data mentah lalu diklasifikasi dengan Analisa SWOT:
- S – Strength / Kekuatan: Apa kekuatan yang kita miliki?
- W – Weakness / Kelemahan: Apa kelemahan internal kita?
- O – Opportunity / Peluang: Apa keuntungan/peluang yang bisa diambil?
- T – Threat / Ancaman: Apa ancaman dari lawan konflik?
Hasil Analisa:
- Jika Lawan Lebih Kuat: Misal punya Undang-Undang, Power, Legal Standing, Referensi. Maka kita wajib menambah kekuatan.
- Atasi Kelemahan Dulu: Kelemahan seperti keuangan, personil, pengamanan, tenaga ahli & eksekutor WAJIB diatasi sebelum membuat kebijakan.
- Bahaya “By Omission”: Jika konflik tidak ditangani karena “dibiarkan saja”, maka kebijakan akan gagal. Rakyat akan lari dari partisipasi mendukung pemerintah. Ini yang paling berbahaya.
- Waspadai Ancaman: Ancaman yang tidak dikelola bisa menggoyang negara dan menyebabkan peralihan tampuk pimpinan.
Manajemen konflik dalam satu negara mendapat tempat yang strategis dan wajib dilakukan.
“Jika negara kuat dalam manajemen konflik, maka negara akan maju cepat. Jika lemah, maka negara bisa hancur.”
Oleh karena itu dibutuhkan:
- Tenaga Ahli Manajemen Konflik yang berpengalaman
- Personil dengan porsi “Genap + 1” – Artinya jumlah dan komposisi harus ideal agar mudah dikendalikan
- Waspada Komposisi Kabinet – Personil kabinet tidak boleh didominasi lawan politik, karena akan sangat sulit dimanajemen/dikendalikan.
(Udra Edukadi News)













