EDUKADI NEWS – Kuningan
Sabtu 4 Juli 2026. Dugaan kurangnya transparansi dan akuntabilitas kini tengah menerpa Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sumber Raharja. Direktur BUMDes Sumber Raharja memilih untuk bungkam dan enggan memberikan jawaban saat dikonfirmasi oleh awak media terkait realisasi anggaran Program Ketahanan Pangan Tahun 2025. Program yang berfokus pada unit usaha peternakan puyuh petelur tersebut diketahui menelan dana desa yang cukup fantastis, yakni sebesar Rp 225 juta.
Sikap tertutup dari pihak manajemen BUMDes ini memicu tanda tanya besar di kalangan masyarakat dan pengamat kebijakan desa. Pasalnya, anggaran yang bersumber dari uang rakyat tersebut seharusnya dikelola secara transparan demi menyukseskan ketahanan pangan nasional di tingkat desa.
Hingga berita ini diturunkan, sejumlah pertanyaan krusial yang diajukan secara resmi kepada Direktur BUMDes Sumber Raharja belum mendapatkan respons sama sekali. Adapun poin-poin konfirmasi yang dihindari oleh pihak BUMDes mencakup 5 aspek utama .
Poin-Poin Krusial yang Gagal Dijawab oleh Direktur BUMDes:
ASPEK PERENCANAAN dan ALOKASI ANGGARAN Rp.225 JUTA
Rincian Modal.
Ketidakjelasan mengenai rincian penggunaan modal Dana Desa sebesar Rp 225 juta, termasuk persentase alokasi untuk investasi fisik (kandang), modal kerja (bibit/pakan), dan biaya operasional awal ?
Kesesuaian RAB.
Kejelasan apakah realisasi fisik di lapangan sudah sesuai dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB) awal atau terdapat pergeseran anggaran yang dilakukan tanpa mekanisme yang sah ?
Target Bisnis.
Kejelasan mengenai estimasi Payback Period (titik balik modal) dan Return on Investment (ROI) yang ditargetkan, serta status perkembangan usaha saat ini (on track atau merugi) ?
ASPEK TEKNIS OPERASIONAL TERNAK PUYUH PETELOR
Kondisi Komoditas.
Jumlah bibit puyuh (Day Old Quail/DOQ atau puyuh siap telur) yang dibeli serta angka kematian (mortality rate) puyuh yang dirahasiakan ?
Kandungan Fasilitas.
Standar kelayakan kapasitas kandang, sistem sanitasi, pencahayaan, pengatur suhu, hingga pengelolaan limbah kotoran yang ramah lingkungan ?
Produktivitas.
Persentase rata-rata produksi telur harian (Hen Day Production/HDP) yang belum diketahui apakah sudah mencapai target standar budidaya ideal atau justru di bawah standar ?
Efisiensi Pakan.
Strategi BUMDes dalam menghadapi fluktuasi harga pakan pabrikan serta ada atau tidaknya upaya pembuatan pakan alternatif ?
ASPEK KONTRIBUSI TERHADAP KETAHANAN PANGAN DESA
Distribusi & Gizi Warga.
Mekanisme distribusi hasil panen untuk mendukung ketahanan pangan warga setempat, termasuk alokasi khusus dengan harga murah untuk pemenuhan gizi guna pencegahan stunting ?
Penyerapan Tenaga Kerja.
Fakta di lapangan mengenai penyerapan tenaga kerja lokal dari warga kurang mampu atau pengangguran melalui unit usaha tematik hewani ini ?
Kemandirian Desa.
Sejauh mana usaha ini mampu mengurangi ketergantungan pasokan telur dari luar daerah ?
ASPEK PEMASARAN, KEMITRAAN, dan KEBERLANJUTAN USAHA
Target Pasar.
Jaringan pemasaran hasil produksi telur (pasar lokal, pengepul besar, UMKM, atau rumah makan) ?
Perjanjian Kemitraan.
Ada atau tidaknya kerja sama atau kontrak tertulis dengan pihak ketiga (offtaker) untuk menjamin stabilitas harga saat produksi melimpah ?
Manajemen Risiko.
Strategi mitigasi jika terjadi risiko bisnis seperti serangan wabah penyakit unggas atau lonjakan harga pakan ?
ASPEK MANAJEMEN KELEMBAGAAN, dan TRANSPARANSI
Sistem Akuntansi.
Pola pencatatan keuangan yang diterapkan dan integrasinya dengan laporan keuangan utama BUMDes Sumber Raharja ?
Pengawasan Internal.
Pembagian kerja (job description) dan fungsi pengawasan oleh Pemerintah Desa selaku penasihat/komisaris ?
Kontribusi PADes.
Rencana alokasi bagi hasil keuntungan (dividen) untuk Pendapatan Asli Desa (PADes) pada tahun buku berikutnya ?
(RD/Jack)













