EDUKADINEWS – KUNINGAN,18 Pebruari 2026
Gelombang kecaman muncul menyusul dugaan tindakan persekusi yang dilakukan oleh oknum paguyuban penyadap getah pinus terhadap aktivis lingkungan dari komunitas “Akar” di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Tindakan intimidasi dan kekerasan ini dinilai sebagai ancaman serius terhadap demokrasi dan upaya pelestarian lingkungan di Jawa Barat.
Peristiwa ini menambah daftar panjang konflik agraria dan lingkungan di mana pejuang lingkungan hidup sering kali berhadapan dengan kekerasan fisik maupun psikis saat menjalankan fungsi kontrol sosial terhadap pemanfaatan sumber daya alam, menurut Agung Sulistio pimpinan redaksi Sahabat Bhayangkara Indonesia (SBI) juga sebagai ketua umum GMOCT ( Gabungan Media Online dan Cetak Ternama). Rabu 18 Februari 2026
Poin-Poin Pernyataan Sikap Agung Sulistio
“Mengutuk Keras Segala Bentuk Kekerasan: Persekusi terhadap aktivis Akar merupakan pelanggaran hukum yang tidak dapat ditoleransi. Tidak ada ruang bagi tindakan main hakim sendiri di negara hukum, terlepas dari perbedaan kepentingan ekonomi.
Mendesak Aparat Penegak Hukum (APH) Bertindak: Meminta Kepolisian dan pihak terkait untuk segera mengusut tuntas aktor intelektual maupun pelaku lapangan di balik tindakan persekusi ini. Penegakan hukum harus dilakukan secara transparan demi menjamin keamanan warga negara yang menyuarakan kelestarian hutan.
Perlindungan Pejuang Lingkungan: Mengingatkan pemerintah dan APH bahwa aktivis lingkungan dilindungi oleh UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Pasal 66, yang menyatakan bahwa setiap orang yang memperjuangkan hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat tidak dapat dituntut secara pidana maupun digugat secara perdata.
Evaluasi Pengelolaan TNGC: Mendesak Balai Taman Nasional Gunung Ciremai untuk mengevaluasi izin atau skema kerja sama dengan paguyuban penyadap getah pinus guna memastikan aktivitas ekonomi tidak merusak ekosistem dan tidak memicu konflik sosial yang berkepanjangan,” tegasnya
Ancaman Terhadap Kelestarian Ciremai
Konflik ini bukan sekadar pertikaian antar-kelompok, melainkan cerminan dari rapuhnya tata kelola kawasan konservasi jika kepentingan ekonomi sesaat lebih dominan daripada keberlanjutan ekologi. Kehadiran aktivis adalah bagian dari check and balance agar Gunung Ciremai tetap terjaga sebagai tangkapan air dan paru-paru Jawa Barat.
“Kami meminta negara hadir. Jika persekusi ini dibiarkan tanpa tindakan hukum yang tegas, maka ini menjadi preseden buruk yang melegitimasi kekerasan terhadap siapa pun yang berani kritis demi lingkungan.”pungkas Agung Sulistio
(RD)













