EDUKADI NEWS – Kuningan
Minggu 15 Februari 2026. Aroma penyimpangan dana desa pada program Ketahanan Pangan (Ketapang) tahun anggaran 2025 di Desa Walahar Cageur, Kecamatan Luragung, Kabupaten Kuningan Jawabarat mulai terkuak. Hasil investigasi lapangan pada Sabtu (4/2/2026) mengungkap jurang perbedaan yang menganga antara Rencana Anggaran Belanja (RAB) dengan fakta fisik di kandang itik milik BUMDes Karya Mukti Sejahtera.
RAB Puluhan Juta, Realita Material Bekas
Dalam dokumen RAB, pembangunan satu unit kandang itik petelur berkapasitas 1.000 ekor menelan biaya fantastis sebesar Rp61.000.000. Namun, saat Tim Media bersama Pemerintah Desa (Pemdes) menyambangi lokasi, pemandangan yang tersaji justru memprihatinkan.
Bangunan kandang didominasi oleh material bambu dan balokan kayu ukuran 10×10 yang diduga kuat merupakan barang bekas. Ironisnya, sejumlah aset vital yang telah dianggarkan raib tak berbekas, di antaranya:
Toren Air 1.000 Liter & Mesin Pompa: Tidak ditemukan di lokasi.
Sistem Pengairan: Kran otomatis, selang, dan kran air fiktif secara fisik.
Inventaris Kandang: Ember pakan hanya tersedia 3 buah dari 10 yang dianggarkan. Ember telur yang ditemukan pun disinyalir kuat merupakan bekas wadah cat.
Misteri Hilangnya 362 Ekor Itik Manila
Skandal lebih besar muncul pada unit usaha Itik Manila (Entok) Pedaging. Berdasarkan RAB, dianggarkan pembelian 400 ekor itik umur 3 bulan senilai Rp16.000.000. Namun, kenyataan pahit ditemukan di lapangan: Hanya terdapat 38 ekor itik.
Artinya, terdapat selisih 362 ekor nyawa ternak yang tidak diketahui keberadaannya. Tidak hanya itu, stok pakan ribuan kilogram dan obat-obatan yang menyerap anggaran puluhan juta rupiah pun tidak terlihat di gudang penyimpanan.
Indikasi Kerugian Negara dan Pembohongan Publik
Total alokasi dana desa sebesar Rp182.000.000 untuk program Ketapang ini kini menjadi tanda tanya besar. Penggunaan kabel bekas, timbangan bekas, hingga raibnya ratusan ekor ternak menguatkan dugaan adanya praktik mark-up harga dan pengadaan barang fiktif.
“Kami menyandingkan data RAB dengan fakta di lapangan. Banyak item yang tertera di kertas, tapi tidak ada wujudnya di kandang. Ini menyangkut uang rakyat,” tegas salah satu personel tim investigasi di lokasi.
Menanti Nyali Pengurus BUMDes
Hingga berita ini diturunkan, pengurus BUMDes Karya Mukti Sejahtera belum memberikan klarifikasi resmi terkait raibnya sejumlah aset dan ternak tersebut. Masyarakat Desa Walahar Cageur kini menuntut transparansi penuh atas dana Rp182 juta yang seharusnya menjadi motor penggerak ekonomi desa, bukan justru menjadi ladang bancakan oknum tertentu.
Investigasi ini akan terus berlanjut hingga pihak-pihak terkait, termasuk Inspektorat Kabupaten Kuningan, turun tangan untuk melakukan audit investigatif secara menyeluruh.
(RD)













