https://picasion.com/
NEWS  

OPINI: KAJIAN KEBIJAKAN PENDEKATAN TEORI SWOT

EDUKADI NEWS – Pekanbaru 15 Oktober 2026.
Studi kasus kecurangan yang terjadi skandal terhadap negara sangat disayangkan. Tapi apa hendak dikata, nasi sudah jadi bubur.

Sejarah kelam telah terjadi akibat kuatnya nafsu hendak berkuasa. Lupa di atas langit ada langit. 20 tahun berkuasa, mau 3 kali jadi Presiden dan diupayakan dengan cara curang untuk meraih kekuasaan, tapi apa yang terjadi, anak jadi korban, azab datang.

Apa yang akan dilakukan lagi? Sekedar untuk memberikan gambaran bahwa yang terbaik dilakukan adalah “Mundur”. Mundur adalah hasil dari kajian Teori SWOT.

S = Strength (Kekuatan)
W = Weakness (Kelemahan)
O = Opportunity (Peluang)
T = Threat (Ancaman)

Kubu Gibran telah hilang S dan lemah W. Masih ada O karena diabaikan. Tetapi mempunyai risiko ancaman besar jika tidak mundur. Ancaman yang spontan adalah hukuman sosial dan pasti dikucilkan dan fotonya raib dari dinding-dinding sekolah. Rusak mental anak didik, pecundang NKRI terlihat di depan mata setiap hari. Yang jelas tidak perlu jujur, tidak jujur itu boleh saja.

Kajian kebijakan pendekatan teori SWOT adalah salah satu cara untuk mengambil suatu kebijakan. Masih banyak lagi cara pendekatan human right dan psikologis dan guidance and counseling dan sebagainya.

NKRI dalam keadaan darurat moral dan hukum kalah oleh kekuasaan dan kepentingan. Sekarang tinggal satu pilihan yaitu Rakyat atau negara atau Gibran. Nah inilah panduan yang akan diambil oleh Kepala Negara. Jika pilih Gibran konsekuensinya negara runtuh.

Mari kita bedah SWOT Gibran pasca Putusan MK final and binding yang finding-nya menemukan tidak ada ijazah dan penyelundupan PKPU.

S (Strength) Kekuatan: NOL. Kekuatan sudah hilang. Dulu kekuatannya adalah bapaknya, Presiden Jokowi, 20 tahun berkuasa, mau 3 periode. Dulu kekuatannya adalah relawan, buzzer, Andi Azwan, Lina Liem. Sekarang setelah putusan MK, kekuatan itu raib. Tidak ada lagi yang berani membela dokumen ilegal secara terbuka, kecuali Jimly yang bilang tidak perlu ijazah, itu pun diketawakan rakyat. Kekuatan hukum juga nol, karena pertimbangan putusan justru membuktikan Suket ilegal.

W (Weakness) Kelemahan: TOTAL. Kelemahannya fatal. Tidak ditemukan ijazah SLTA, dokumen palsu, penyelundupan Pasal 18 ayat 3 PKPU, Pasal 19 UU Pemilu 2003. Kelemahan moral, pecundang NKRI terlihat di depan mata setiap hari di dinding sekolah. Rusak mental anak didik, karena diajarkan tidak perlu jujur, tidak jujur itu boleh saja. Kelemahan politik, terpolarisasi, rakyat muak. Inilah azab, nafsu bapak ingin terus berkuasa, anak jadi korban.

O (Opportunity) Peluang: MASIH ADA, JIKA MUNDUR. Peluang hanya satu, mundur. Mundur adalah elegan, satria, seperti kata Mahfud MD. Jika mundur sekarang, masih ada peluang ikut Paket C, sekolah lagi, maju 2029 atau 2034 dengan bersih. Rakyat akan memaafkan, sejarah akan mencatat kesatriaannya. Peluang kedua adalah by omission, diabaikan, meja kosong, dikandangkan, masih selamat sampai 2029 tanpa fungsi. Itu pun masih peluang, daripada hancur.

T (Threat) Ancaman: NEGARA RUNTUH. Jika tidak mundur, ancamannya besar dan spontan. Ancaman pertama, hukuman sosial. Rakyat akan turunkan foto dari dinding sekolah, kantor, desa. Dikucilkan, dianggap tidak ada. Mati sosial. Ancaman kedua, Hak Angket dan pemakzulan di MPR. Mahfud bilang makzulkan dulu baru usut pidananya. Ancaman ketiga, amuk massa seperti kata Rocky Gerung, emosi di titik kulminasi. Ancaman terbesar, NKRI darurat moral, hukum kalah oleh kekuasaan, kedaulatan runtuh, negara terpecah.

Maka kajian SWOT menyimpulkan, hanya satu kebijakan yang rasional, MUNDUR.

Teori lain seperti human rights, psikologis, guidance and counseling juga sama kesimpulannya. Secara HAM, mempertahankan pejabat cacat dokumen melanggar hak 280 juta rakyat untuk dipimpin yang jujur. Secara psikologis, anak didik rusak mentalnya. Secara guidance, tidak ada teladan.

Sekarang Kepala Negara dihadapkan pada pilihan terakhir, Rakyat atau negara atau Gibran. Tidak bisa pilih dua. Jika pilih Gibran, konsekuensinya negara runtuh. Jika pilih rakyat dan negara, Gibran harus mundur.

SWOT sudah bicara. Nasi sudah jadi bubur, jangan biarkan bubur itu basi dan meracuni seluruh bangsa.

(Udra Edukadi News)

https://picasion.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://picasion.com/